SEDERET INFO-INFO

blog yang menyediakan semua info unik, aneh, lucu info yang lagi trendy di tahun 2016, ada info kesehatan, tips belajar seo mudah, cara membuat website, info cpns 2016, dan lain sebagainya dan juga info seo 2016

9 March 2014

Kasus Suap dan mafia di dalam tubuh Sepakbola

Sisi gelap industri sepakbola dunia
Besarnya perputaran uang dalam sepakbola dimanfaatkan para mafia.
Skandal besar banyak melibatkan petinggi-petinggi sepakbola.
Sebuah laporan dari Europol (kepolisian Eropa) pada hari Senin, 4 Februari 2013, mengguncang dunia olahraga. Laporan tersebut melaporkan skandal besar dalam dunia sepak bola. Dalam laporan tersebut, Europol melaporkan terjadinya pengaturan skor dalam 380 pertandingan di Benua Biru yang termasuk pertandingan Liga Champions dan penyisihan kualifikasi Piala Dunia! Meski hingga saat ini Europol masih menutup rapat-rapat siapa saja yang terlibat dalam skandal ini, namun mereka menduga kasus ini melibatkan 425 pertandingan, direksi klub, pemain, dan anggota mafia perjudian.
Kabar yang sangat mengejutkan memang, olahraga paling digemari di seluruh penjuru dunia ini semakin menunjukan sisi gelapnya. Sekitar 10 tahun terakhir dunia sepakbola kerap diguncang berita tentang keberadaan "mafia" yang bisa mengatur olahraga ini. Sebut saja mulai dari kasus pengaturan skor, hingga kasus suap dalam penentuan tuan rumah event tertentu seperti Piala Dunia atau Piala Eropa. Besarnya jumlah uang yang berputar dalam industri sepakbola tampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi para mafia judi.
Kasus Calciopoli di Serie A Italia tentu masih cukup fresh di memori Anda. Bagaimana tidak, tim yang cukup lama mendominasi di Liga Italia, Juventus harus terlempar dari kasta teratas Serie A dan terlempar ke divisi kedua akibat hukuman yang dijatuhkan FIGC (federasi sepakbola Italia). Melalui investigasi yang dilakukan FIGC dan kepolisian termasuk penyadapan telpon, Luciano Moggi terbukti melakukan kontak ilegal tentang pengaturan keputusan wasit dengan beberapa official pertandingan pada musim 2004-2005 dimana Juventus berhasil memenangkan liga. Menariknya Juventus bukan satu-satunya klub yang terlibat dalam skandal ini, bahkan selain Juventus ada tiga klub besar lainnya yang telibat yaitu AC Milan, Fiorentina, dan Lazio, satu klub lagi yang terlibat adalah Regina.
Luciano Moggi, aktor utama dalam skandal Calciopoli.
Sumber: giornalettismo.com
Juventus menjadi klub yang menerima sangsi terbesar, jatuh ke Serie B, atau divisi dua Liga Italia, beberapa pemain bintang yang menghiasi skuat Juventus pergi menyelamatkan kariernya ke klub lain, sebut saja Fabio Cannavaro (Real Madrid) dan Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan). Jangan lupakan juga hukuman mengerikan yang akan terus membekas di tifosi Juventus, mereka harus kehilangan dua gelar juara yang mereka "menangkan" pada tahun 2004 dan 2005 dibawah kepelatihan Fabio Capello. Sementara keempat tim lainnya hanya mendapat hukuman berupa pengurangan poin pada musim berikutnya.
Selesainya kasus Calciopoli ternyata tidak membuat sepakbola Italia menjadi bersih. Pada tahun 2011-2012, lagi-lagi terjadi kasus yang melibatkan pengaturan skor dan organisasi mafia judi, bahkan beberapa pemain aktif maupun yang sudah pensiun terbukti terlibat dalam organisasi mafia judi yang tertuduh melakukan pengaturan skor. Beberapa nama besar di sepakbola Italia seperti Christiano Doni, Stefano Mauri, Domenico Criscito, hingga pelatih Juventus Antonio Conte dijatuhi hukuman baik akibat terlibat langsung maupun tidak langsung.
Conte tidak diperbolehkan mendampingi Juventus akibat terganjar hukuman.
Sumber: cdn.blogosfere.it
Mereka yang tidak terlibat secara tidak langsung berarti mereka yang mengetahui keberadaan beberapa individu yang terlibat melakukan pengaturan skor namun tidak melaporkan. Antonio Conte yang tidak terlibat secara langsung mungkin menjadi figur paling high-profile yang mendapatkan hukuman. Conte yang baru saja berhasil membawa Juventus menjadi juara terkena larangan selama empat bulan dari lapangan sepakbola. Maka pada awal musim 2012-2013 ia tidak bisa berada di lapangan memberikan instruksi bagi Juventus.
Selain kasus pengaturan skor, dunia sepakbola juga dikagetkan dengan pemberitaan kasus suap menyuap yang kali ini terjadi di badan FIFA sendiri! Bayangkan saja, justru kasus suap menyuap terjadi di badan tertinggi olahraga sepakbola dunia. Pada hari terjadinya pemungutan suara guna menentukan negara mana yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022, diberitakan terjadi skandal yang melibatkan perwakilan Qatar, Michel Platini (Presiden UEFA yang berasal dari Prancis) dan juga presiden federasi Spanyol, Angel Maria Villar. 
Dilaporkan majalah France Football, Qatar "membeli" beberapa hak suara guna memuluskan jalan mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Inilah skenario yang terjadi dalam laporan tersebut; terjadi "makan siang" rahasia antara mantan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, Pangeran Al-Thani dan Michel Platini. Al-Thani diberitakan memberikan tawaran menggiurkan bagi Platini dan Sarkozy yaitu membangkitkan Paris Saint Germain dengan syarat Platini sebagai salah satu pemegang hak suara pemilihan tuan rumah Piala Dunia memilih Qatar dan melepas dukungan kepada Amerika Serikat yang selama ini didukungknya.
Nicolas Sarkozy dan Pangeran Al-Thani. Awal kejayaan Paris Saint Germain?
Sumber: nimg.sulekha.com
Meski pada akhirnya tidak ada yang mengakui tuduhan tersebut, toh fakta yang terjadi pada akhirnya Platini melepas dukungannya atas Amerika Serikat dan mendukung Qatar. Pada tahun yang sama Paris Saint Germain dibeli konsorsium asal Qatar yang bernaung dibawah bendera QIA (Qatar Investment Authority) yang dipimpin oleh perdana menteri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, dan saat ini mereka tampak seperti tim yang tidak memiliki batasan dalam berbelanja pemain, terbukti banyaknya bintang besar yang berlabuh di Paris, dimana liga Prancis bukanlah liga yang selama ini menjadi destinasi bagi bintang-bintang dunia.Bagaimana menurut anda?
Selain itu terdapat juga tuduhan tukar suara yang melibatkan Qatar dan Spanyol. Federasi Qatar dikabarkan menawarkan tukar suara dengan Presiden Federasi Spanyol, Angel Maria Villar, dengan kesepakatan Qatar memilih Spanyol-Portugal sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, dan Spanyol akan mendukung penuh Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, ditambah lagi dengan kesepakatan tim nasional Spanyol akan bermain di pertandingan persahabatan di Doha. Lagi-lagi tidak ada yang mengakuinya, namun fakta yang berbicara adalah Spanyol akan bermain di Doha pada bula Februari ini melawan Uruguay. Aneh bukan? Oh ya, pada akhirnya memang Spanyol-Portugal gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia karena kalah bersaing dari Rusia.
Pada tahun yang sama FIFA juga tersandung kasus suap dalam pemilihan presiden FIFA. Mohammed bin Hammam asal Qatar yang merupakan presiden AFC pada saat itu dan juga calon kuat untuk menjadi presiden FIFA terbukti melakukan suap kepada pemegang hak suara pemilihan. Pada akhirnya Hamman dihukum FIFA dan dilarang untuk terlibat dalam dunia sepakbola seumur hidupnya. Meski FIFA berhasil mengungkap kasus ini dan memberikan hukuman bagi para pelaku, tentu saja hal-hal seperti ini menjadi aib bagi mereka, sebagai badan tertinggi olah raga paling populer di dunia, FIFA diharapkan untuk menjadi organisasi yang bersih dari segala skandal.
Mohammed bin Hammam harus diusir dari dunia sepakbola seumur hidupnya.
Sumber: asianfootballfeast.com
Inilah wajah asli dari dunia sepakbola modern. Industri yang menciptakan banyak uang dan menjadi lahan besar bagi mafia perjudian dan skandal suap. Jika kasus yang diungkap Europol telah dibuktikan, skandal ini tersebut bisa mejadi yang terbesar dalam dunia olahraga, yang jelas FIFA harus berjuang keras menyelamatkan wajah dari sepak bola.

Jangan Berbicara yang tidak mengandung inti artikel..
- Berbicaralah yang baik
- Apalagi kalau anda hanya mencari BACKLINK

www.lihatin.com. Powered by Blogger.
Back To Top