SEDERET INFO-INFO

blog yang menyediakan semua info unik, aneh, lucu info yang lagi trendy di tahun 2016, ada info kesehatan, tips belajar seo mudah, cara membuat website, info cpns 2016, dan lain sebagainya dan juga info seo 2016

24 December 2012

Siapa kesebelasan terbaik sepanjang masa?


Empat tahun terakhir, perhatian publik sepak bola dunia selalu terarah ke Spanyol. Mereka mendominasi persepakbolaan dunia, baik di level klub, dengan kiprah Barcelona maupun tim nasional Spanyol di pentas internasional. Tidak hanya lewat bintang lapangannya, tapi juga pola permainan Tiki Taka konon kemashyurannya melebihi ‘Tarian Samba’ khas sepak bola Brasil.

Walau Tiki Taka berawal dari Barcelona, namun prestasi klub Katalan tersebut perlahan meredup. Sementara timnas Spanyol konsisten berada di puncak dan seakan menulis ulang buku sejarah sepak bola berkat berbagai torehan selepas Euro 2012. La Furia Roja memang layak didapuk sebagai tim sepak bola terbaik di era modern.

Barcelona tumbang kala mereka masih memiliki Lionel Messi. Sementara Spanyol, walau tanpa Carles Puyol dan David Villa, terus bersinar di pentas internasional. Semua itu berkat sentuhan tangan dingin Entrenador Vicente Del Bosque.  Pelatih berusia 61 tahun ini merupakan arsitek yang mampu menjembatani perbedaan karakter para bintang Spanyol, mayoritas dari Barcelona dan Real Madrid, yang sepanjang musim berjibaku di level klub.

Dengan para rival yang mulai menemukan cara untuk meredam Tiki Taka, Del Bosque dengan brilian merombak timnya, dan fleksibel dalam menerapkan strategi permainan.  Spanyol pun tetap mematikan walau bermain dengan empat defender dan enam midfielder.

Spanyol ala Del Bosque tampil  begitu elegan dalam permainan, memiliki pertahanan solid dan serangan yang mematikan. Serta memberi kontribusi besar untuk sepak bola modern lewat Tiki Taka yang inspiratif.

Susah dihentikan

Karena sangat dominan di lapangan, Spanyol pun sempat dicap membosankan. Namun hal itu tak tampak di partai final Euro 2012 kala mereka menghabisi Italia lewat kemenangan empat gol tanpa balas. Talenta mumpuni para punggawa Spanyol dengan kedalaman kualitas skuad La Furia Roja memang membuat iri tim-tim lain di dunia.

Sorotan media massa dunia juga membuat La Furia Roja nyaris tak memiliki rahasia untuk disembunyikan. Hampir semua fans sepak bola mengenal karakter permainan Xavi Hernandez dkk. Mulai dari starting XI hingga strategi mereka di lapangan begitu mudah diprediksi. Satu hal yang berulang kali terbukti adalah: benar-benar susah menghentikan eksplosivitas La Furia Roja.

Mengapa? Spanyol merupakan tim berpengalaman dan tahu bagaimana meraih kemenangan. Spanyol adalah sang juara bertahan, di Eropa dan Dunia. Mereka merebutnya secara beruntun!

Catatan Jerman Barat (Euro 72, Piala Dunia 74, dan Euro 76) dengan menembus final di tiga turnamen besar secara beruntun dan memenangkan dua di antaranya, disalipnya. Spanyol pun lolos ke final Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012, namun memenangkan semuanya.

Del Bosque sukses memadukan the winning team yang paham benar bagaimana merebut kemenangan. Mental juara telah tertanam di setiap punggawa La Furia Roja. Mereka melewati berbagai rintangan berupa kritik terhadap pola permainannya hingga meredam rumor negatif di ruang ganti tentang ketidakharmonisan tim. 

Lewat Tiki Taka, Spanyol membuat lawan tertekan luar dalam. Fisik maupun mental. Lawan dipaksa bertahan dan terbawa alur permainan. Setidaknya, hanya coba mengejar bola hingga kelelahan. Ketika sudah lelah, tim lawan pun membuat kesalahan. Ini yang dimanfaatkan Spanyol untuk mencetak gol dan merebut kemenangan.

Mungkin klise. Tapi Tiki Taka yang memberi Spanyol ball possession di atas 60 persen benar-benar menyiratkan bahwa pertahanan terbaik adalah dengan menyerang. Sederhana. Jika Spanyol menguasai bola, maka lawan takkan mungkin mencetak gol. Ketika lawan menguasai bola, pressure ketat pun segera dilakukan, hingga tak leluasa memanfaatkan peluang.

Efisiensi permainan juga menjadi filosofi yang dipegang teguh Del Bosque dan skuadnya: mereka menyerang dan bertahan sebagai sebuah tim.

Tiki Taka bukanlah sekadar pola bermain dengan saling mengumpan hingga lawan kalah karena kelelahan. Tiki Taka lebih kepada mempertahankan penguasaan bola sambil menunggu terbukanya celah pertahanan lawan. Tiki Taka tak hanya membutuhkan skill tinggi, namun juga kesabaran. Kejelian memanfaatkan peluang ini adalah keunggulan terbesar Spanyol berkat para pemain tengah brilian semacam Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Cesc Fabregas atau David Silva.

Bukan Terbaik

Sejak kalah 1-3 dari Prancis di 16 besar Piala Dunia 2006, Spanyol telah memenangkan 17 dari 18 laga kompetitifnya. Hanya satu hasil imbang, yaitu melawan Italia di partai pembuka Grup C Euro 2012. Kontras dengan Jerman, Spanyol kini secara resmi menghapus Italia sebagai bogey team. Untuk kali pertama sejak 1920, mereka akhirnya mengalahkan Italia dalam waktu normal laga di level turnamen.

Sukses di Euro 2012 meneruskan status Spanyol sebagai raja persepakbolaan Eropa hingga empat tahun ke depan. Spanyol diakui sebagai yang terbaik di era modern. Hanya, kehebatan La Furia Roja sebagai tim terbaik dunia sepanjang masa masih bisa diperdebatkan. Karena statistik menyatakan, hanya Brasil yang sukses mempertahankan gelar Piala Dunia (1958 dan 1962). 

Generasi emas Spanyol saat ini mungkin bisa melampauinya jika mampu mempertahankan Piala Dunia, dua tahun mendatang. Hanya, prospek Spanyol untuk memenangkan Piala Dunia secara beruntun mungkin agak terhambat dengan fakta bahwa usia pilar utama mereka mulai beranjak senja. Spanyol harus mampu mendapatkan pengganti sepadan bagi Xavi Hernandez yang akan berusia 34 tahun, dan Andres Iniesta (30 tahun) kala Piala Dunia 2014 digelar di Brasil.

Selain itu, terlalu dini jika menyebut Spanyol sebagai negara dengan sepak bola terbaik dunia. Karena masih ada Italia (empat kali juara dunia), Jerman (tiga kali juara dunia), dan Brasil yang telah lima kali juara dunia. Brasil sendiri sukses merebut Piala Dunia dan dua Copa America antara 1994 hingga 1999. Kemudian mereka juga memenangkan Piala Dunia kembali diikuti dengan dua Copa America ditambah gelar pada dua turnamen Piala Konfederasi antara 2002 hingga 2009.

Jangan Berbicara yang tidak mengandung inti artikel..
- Berbicaralah yang baik
- Apalagi kalau anda hanya mencari BACKLINK

www.lihatin.com. Powered by Blogger.
Back To Top